Makna ‘Melihat ' Diri-Nya di Akhirat
Telah ditetapkan
melalui dalil akal bahwa Tuhan tidaklah memiliki jasad dan berbentuk, tidaklah
menempati sebuah ruangan dan waktu. Hal ini menjadi dalil bahwa Tuhan
Yang Agung adalah zat yang tidak dapat dilihat. Namun, sebahagian kalangan
penafsir menyatakan bahwa Tuhan akan menampakkan dirinya di hari kiamat, mereka
berdalil bahwa hamba-hamba yang soleh akan melihat wujud Tuhan di hari kiamat,
melalui ayat yang berbunyi: “Kepada Tuhannyalah mereka Melihat”. (QS.
al-Qiyamah: 23). Apakah maksud ayat tersebut?
Adapun penglihatan adalah terbiasnya cahaya sesuatu pada
lensa mata. Ketika proses pembiasan ini bekerja, maka akan terjadi ada ikatan
antara yang sesuatu yang dilihat dan mata. Oleh karenanya, menjadikan sesuatu
tersebut menempati pada tempat tertentu. Dan segala yang berbentuk membutuhkan
sebuah tempat, dan yang membutuhkan yang lain adalah fakir. Dan ini tidak akan
memiliki sifat Ketuhanan (Uluhiyah). Dari penjelasan ini maka sekiranya Tuhan
bertempat, tidaklah akan melewati kemungkinan berikut ini: 1. Keberadaan tempat
tersebut pada awalnya bersamaan dengan wujud Tuhan. Kalau sekiranya tempat
tersebut qadim (dahulu), maka keberadaannya sama dengan keberadaan Tuhan Yang
Qadim. Jadi, ada dua wujud yang qadim. 2. Sekiranya Allah Swt menciptakan
tempat untuk diri-Nya sendiri. Dan kita umpamakan Dia (Allah) tidak membutuhkan
tempat. Dengan dalil bahwa sebelum dicitakan tempat tersebut, dia telah ada.
Dengan gambaran ini, bagaimana
Allah Swt tidak membutuhkan tempat , kemudian setelah itu Dia membutuhkan
tempat. Dilihat dari makna ayat, maka dapatlah kita jelaskan sebagai berikut:
Kata Nadhiro dari ayat tersebut bukanlah mempunyai makna melihat akan tetapi
bermakna menunggu atau menanti. Dan maksud dari keseluruhan ayat adalah
penantian rahmat dan kasih sayang Allah Swt. Ketika utusan raja Saba’
mengirimkan hadiah kepada nabi Sulaiman as, disebutkan dalam al-qu’an, Allah
Swt berfirman: “Dan Sesungguhnya Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan
(membawa) hadiah, dan (aku akan)menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh
utusan-utusan itu”.(QS. al.-Naml: 35). Dan pengertian Nadhiro sebenarnya,
bukanlah diartikan penglihatan. Maka kita mencoba penelusuri ayat diatas,
dengan mengaitkan dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya.
Allah Swt berfirman: 1.
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”. 2. “Kepada
Tuhannyalah mereka Melihat“. 3. “Dan Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu
muram”. 4. “Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat
dahsyat”. (QS. al-Qiyamah. 22-25). Pada keempat ayat diatas, ayat ketiga nampak
berlawanan dengan ayat pertama. Dan ayat keempat juga berlawanan dengan ayat
kedua. Dan pelu diperhatikan bahwa ayat keempat menghilangkan bentuk kekaburan
seperti pada ayat yang kedua. Yang jelas, ayat yang pertama dan ketiga adalah
pembagian atas manusia di hari kiamat. Dan ayat kedua dan keempat juga adanya
penjelasan nasib perjalanan manusia dalam dua bentuk. Dari sisi lain, maka ayat
keempat memaparkan tentang penantian terhadap sebuah azab, dan ayat kedua
memaparkan tentang penantian terhadap rahmat Swt. Bukanlah penglihatan dan
penyaksian dalam bentuk luar (dhahir).
Kesimpulan: Dalil ayat untuk
menetapkan kemungkinan Allah Swt dapat dilihat di hari kiamat, akan menyimpang
dari pemahaman secara filosofis dan terhadap tujuan yang ada di dalam keempat
ayat tersebut. Dari ayat, sebenarnya mengambarkan tentang pelaku ketaatan dan
maksiat dan penantian keduanya terhadap nasib mereka dari turunnya rahmat Allah
atau azab-Nya. Adapun penafsiran tentang penyaksian zat Al-Haq tidaklah
berkaitan dengan ayat ini.
Comments
Post a Comment